Mohon Maaf Lahir dan Bathin 1 Syawal 1431H

This image has no alt text

Apa yang membedakan tahun ini dengan tahun lalu saat mudik? Salah satunya adalah ada jutaan pengguna social media yang ikutan mudik. Memang bedanya dengan pemudik lainnya apa? Hihi, nggak ada sih, cuma ini ada beberapa tips untuk para pemudik yang aktif ber-social media.

  • Jangan pernah update status dengan detil kapan Anda mudik, naik apa, jam berapa, dan bahkan cerita kalau rumah Anda kosong tanpa ada yang menjaga. Anda nggak akan pernah tahu ada orang yang berniat jahat yang menjadi follower Anda. Jadi berhati-hatilah memberikan informasi.
  • Cek juga apakah Anda pernah mengunggah foto yang mengindikasikan rumah Anda dengan jelas di Facebook, Tweetphoto, Twitpic, atau situs-situs serupa. Apalagi kalau foto-foto itu bisa diakses mudah oleh publik. Seorang yang pintar akan mudah melakukan profil dari kegiatan Anda di social media hingga korelasinya dengan foto-foto yang pernah Anda unggah. Kalau pernah mengunggah foto lokasi rumah, sebaiknya dihapus dulu deh.
  • Ingat Foursquare dan Gowalla? Hayo, pasti masih banyak yang memberi tanda rumahnya di situs itu. Mereka yang menjadi Mayor di rumahnya sendiri berhati-hatilah. Siapa tahu selama libur Lebaran ini status Mayor Anda ini menjadi tak bermakna apa-apa, karena isi rumah Anda tiba-tiba kosong setelah Lebaran. Alias, ada yang menggerayangi rumah Anda, karena kesalahan Anda sendiri di social media, memberikan alamat rumah (dan petanya) dengan jelas.
  • Butuh informasi mudik? Ikuti @pulkam di Twitter. Ada beberapa teman yang sukarela meluangkan waktunya selama liburan ini untuk menjadi kanal informasi seputar mudik dan pulang kampung. Atau kunjungi situsnya di sini. Informasikan arus mudik dan foto-foto menarik saat Anda pulang kampung dan berbagilah dengan @pulkam. Niscaya informasi ini akan memberikan manfaat bagi orang lain.
  • Ada pula aplikasi BlackBerry iMud yang bisa Anda unduh di sini. Melalui aplikasi ini Anda bisa melihat foto-foto CCTV keadaan lalu lintas jalan tol. Ada pula tips dan info seputar posko mudik dan bengkel resmi Yamaha. Kalau mau lihat livestream videonya langsung, cek saja ke situs Jasa Marga.
  • Terakhir, social media memang memudahkan Anda dalam berkomunikasi, termasuk dalam mengucapkan selamat lebaran kepada teman-teman Anda. Hanya saja, jangan sampai ucapan selamat lebaran mohon maaf lahir bathin itu menjadi bumerang bagi Anda, saat Anda mengunggah gambar kartu ucapan di Facebook dan men-tag semua teman Anda di dalamnya. Bayangkan betapa risihnya teman Anda kalau menemukan namanya di antara orang-orang lain yang ia tidak kenal. Tag-lah teman Anda yang hanya dalam satu kelompok, supaya kartu Anda bisa menjadi ajang silaturahmi komentar antara sesama yang memang sudah saling kenal.

Pendek ya tipsnya? Hihihi, tips mudik lainnya baca sajalah di @pulkam atau cari kata ‘mudik‘ di Twitter. Pasti banyak!

Untuk yang mudik, selamat mudik ya! Media Ide dan Stratego mengucapkan:

Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Minal ‘Aidin wal-Faizin.

Kita kosong-kosong ya…

Mohon Maaf Lahir dan Bathin 1 Syawal 1431H ini adalah artikel dari: Media Ide
-- Sudah pernah membaca buku-buku berikut?

Sempitnya Ruang Gerak Rokok di Ranah Daring

This image has no alt text

tobaccoSebetulnya kita bersyukur membaca judul di atas, karena semakin sedikit ruang gerak bagi brand rokok untuk berkampanye daring. Di televisi, iklan rokok hanya boleh tayang setelah jam 21:00 malam. Tujuannya jelas, untuk menghindari ekspos rokok kepada mereka yang masih muda (di bawah 18 tahun). Setiap iklan di televisi, radio, dan media cetak, peringatan kesehatan “Merokok dapat Menyebabkan Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” selalu menempel. Kalau di media cetak, tinggi peringatan ini harus 15% dari tinggi iklannya. Dimanapun terlihat sebuah brand rokok, peringatan kesehatan ini harus selalu ada.

Visual iklannya pun tidak boleh menampilkan rokok, kotaknya, dan hal lain yang berhubungan dengan kegiatan merokok. Brand rokok pun lalu mengasosiasikan diri mereka dengan tema. Ada Djarum Super dengan petualangannya, ada Marlboro Lights dengan party-nya, ada Dji Sam Soe dengan klasik eksklusifnya. Bisa dibayangkan perjuangan seorang brand manager saat berusaha mengkomunikasikan sebuah produk baru kepada para audiensnya. Saat melakukan audiensi dengan para media, brand manager pun juga harus berbagi cerita berapa besar kadar tar dan nikotin sebuah batang rokok. Brand manager juga harus mengakui kalau rokok memang berbahaya untuk kesehatan. Hehe, bayangkan bagaimana coba menjual sebuah produk baru yang pemiliknya sendiri mengakui ada ancaman kesehatan di dalamnya.

Itu baru di ranah komunikasi tradisional. Dulu sempat terpikir, kalau komunikasi tradisional sulit, mungkin brand rokok bisa memanfaatkan ranah daring untuk lebih kuat membangun awareness akan produknya. Ternyata hal itu pun tak mudah. Brand rokok memang boleh beriklan di portal-portal berita. Brand rokok juga boleh membuat situsnya sendiri, tapi dengan catatan: situs itu hanya boleh diakses oleh mereka yang perokok dan berusia 18 tahun ke atas. Nama situs, jika menggunakan nama brand, juga tidak boleh ditemukan langsung saat pengguna iseng-iseng mencarinya di Google. Asumsinya, belum tentu yang mencari adalah perokok dan berusia 18 tahun ke atas.

Saat masuk ke situs harus ada proses filter saat registrasi. Sepanjang proses registrasi belum dilakukan, pengguna tidak boleh terekspos oleh brand rokok. Salah satu hambatan utama komunikasi brand rokok di ranah daring adalah, pengguna harus melakukan registrasi terlebih dahulu (dengan isian form yang panjang) sebelum akhirnya bisa menikmati isi situs. Untuk membuktikan pengguna berusia 18 tahun, ia harus memindai KTP miliknya dan mengunggahnya ke situs. Akan ada proses validasi manual oleh situs. Bila pengguna tidak melakukan proses validasi ini hingga periode tertentu, keanggotaannya akan ditarik, dan pengguna tidak bisa login ke situs itu kembali.

Bisa dibayangkan betapa banyaknya halangan hanya sekedar untuk masuk ke situs milik brand sendiri. Belum tahu apa isinya, belum jelas apa manfaatnya, pengguna harus dipaksa untuk registrasi lebih dahulu. Ini sudah menjadi ketentuan standar. Itulah mengapa komunikasi melalui banner iklan di portal berita harus menggunakan kata-kata manis yang membujuk dan membangun call to action bagi audiensnya, sehingga mereka tidak ragu untuk registrasi ke dalam situs.

Mau promosi di social media? Nggak bisa sembarangan. Aturan main di atas tetap berlaku. Kalau situs social media itu dibaca hanya oleh mereka yang berusia 18 tahun ke atas tidak masalah. Namun jika tidak, brand rokok tidak berani mengambil resiko. Itulah kenapa tidak ada akun resmi Marlboro Indonesia atau Dji Sam Soe Indonesia di Facebook atau Twitter. Hehe, namun entah kenapa L.A. Lights dari grup Djarum berani ya, sementara kompetitornya dari Philip Morris tidak melakukan hal ini?

Kalau semua gerak brand rokok dibatasi, lantas ke mana mereka bergerak dan mempromosikan diri mereka? Jawabannya: event. Kalaupun ada informasi di banner dan situs, ujung-ujungnya lebih ke arah mempromosikan program below the line-nya. Makanya kalau sudah di event, brand rokok tidak main-main. Tentunya mereka yang bisa datang ke event adalah mereka yang sudah 18 tahun ke atas dan mengaku sebagai perokok. Mereka mengundang media, agar event menjadi bahan berita dan ekspos brand bisa muncul dalam bentuk liputan.

Namun apakah hal ini masih bisa berlangsung lama? Masyarakat kini semakin sadar akan kesehatan dirinya. Bahkan para perokok aktif pun banyak yang sadar kalau apa yang mereka lakukan itu berbahaya bagi kesehatan. Belum lagi ditambah faktor fatwa haram yang dikeluarkan Muhammadiyah beberapa minggu lalu. Lalu ruang gerak apa lagi yang bisa dilakukan brand rokok untuk membangun komunikasinya di ranah daring?

Catatan: penulis blog bukanlah perokok dan tidak berupaya mensponsori promosi brand rokok tertentu, meski saat ini menangani situs dua brand rokok.

Kredit foto: incurable_hippie

Sempitnya Ruang Gerak Rokok di Ranah Daring ini adalah artikel dari: Media Ide


Sudah pernah membaca buku-buku berikut?

" >


Indonesian Hot Air Balloon Adventure di Sentul

This image has no alt text

DSC_9427Selama 3 hari ini, 26-28 Maret 2010, di Sentul City (sekitar 38 kilometer dari Cawang), sedang diadakan Indonesian Hot Air Balloon Adventure yang pertama. Sebenarnya sih, penggunaan balon udara raksasa ini telah dilakukan pada acara nikah massal di Lampung dan Palembang. Saksi dan penghulu beserta pilot naik dalam satu keranjang dan diterbangkan, lalu menjalankan akad nikah di udara (enak kan kalau ikut nikah massal dan dapat sponsor?).

Di Sentul City ini jelas lebih berbeda. Total 15 balon udara (kalau nggak salah) didatangkan dari berbagai negara seperti Belgia, Belanda, Prancis, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Sebagai catatan, di negara-negara di atas festival balon udara sudah jadi hal yang biasa. Jadi ingat waktu bulan Juni tahun lalu ke Jerman, sempat melihat balon-balon udara serupa beterbangan di angkasa mendatangi lokasi acara. Sayangnya, besoknya hujan deras, sehingga festival pun dibatalkan.

Beda negara, beda daerah, jelas beda cuaca. Apalagi sekarang beberapa daerah masih masuk musim hujan. Padahal keberangkatan balon udara sangat bergantung sekali pada cuaca. Di atas (katanya) balon udara hanya akan mengikuti kemana angin membawanya. Yang bisa diatur hanyalah naik dan turun. Di Jakarta, kondisi udara di pagi hari (sekitar jan 6-7) dan sore hari (sekitar jam 18-19) dirasakan paling memungkinkan, karena udara belum terlalu panas dan angin belum bertiup terlalu kencang. Itu pun dengan asumsi, tidak hujan ya.

DSC_9466Cuma sempat datang di acara pagi ini dan belum dapat kesempatan untuk naik pula. Sebenarnya baru pagi tadi para pilot pemilik balon udara ini sempat mengetes arah angin dan memastikan pergerakan balon udara dan menentukan titik pendaratan. Pilot-pilot pemilik balon udara ini punya sertifikasi loh, dan berlaku internasional. Tiket untuk umum pun belum sempat dijual tadi pagi. Beberapa perwakilan media ada yang sempat merasakan naik balon udara (meski dalam kondisi terikat dengan mobil), sebelum akhirnya hujan mengguyur Sentul.

Kalau dengar selentingan dimana-mana hari ini memang banyak yang berkomentar kalau acaranya mengecewakan. Hehe, bisa jadi karena yang datang berekspektasi sangat tinggi. Namun seperti biasanya, ini adalah sebuah perhelatan pertama. Bisa jadi banyak tetek bengek terkait dengan sponsor dan birokrasi yang menghambat. Semoga saja hari Sabtu dan Minggu besok akan lancar dan tanpa hambatan (dan cuaca pun ikut berbaik hati).

Si penyelenggara acara sebenarnya ingin kalau acara ini pun nantinya bisa diselenggarakan di kota-kota lain. Para pilot balon udara itu pada hakikatnya sangat suka jalan-jalan dan mereka sangat senang kalau bisa melihat keindahan Indonesia dari atas. Jadi kalau ada usulan lokasi (yang pasti harus jauh dari laut), ajukan saja ke EO-nya, Beraksi Komunikasi.

Update Hari Ke-2

Untungnya hari ini cerah. Langit pun biru. Pengunjung pun mulai antri sejak pukul 06:30, sementara loket baru dibuka pukul 07:30. Mereka yang antri hari ini pun harus mengalah terlebih dahulu dengan yang telah antri di hari pertama. Kemarin sore Sentul memang hujan deras, sehingga tidak semua acara bisa dilakukan dengan sempurna. Belum jam 08:30 berakhir, jatah 200 tiket untuk hari ini telah habis (ini termasuk mereka yang tidak bisa mendapatkan kesempatannya di hari pertama).

Sempat ngobrol juga dengan warga Sentul yang ikut dalam antrian tadi. Acara Indonesian Hot Air Balloon Adventure ini rencananya memang mau diselenggarakannya di padang hijau, tempat bermain polo. Area ini sangat ideal, serta bebas dari tiang lampu dan jauh dari kabel tegangan tinggi. Namun sayangnya, hujan beberapa hari terakhir membuat tanah di area ini amblas hampir 1 meter. Mau tidak mau lokasi acara harus dipindahkan. Karena acara lokasi berpindah, para pilot balon udara harus melakukan pengujian ulang penerbangan untuk mengecek pergerakan angin. Itulah mengapa kemarin di hari pertama penyelenggaraan acara menjadi terlambat.

Update Hari Ke-3

Hari terakhir di acara Indonesian Hot Air Balloon Adventure. Suasana lebih ramai daripada hari sebelumnya. Langit terlihat cerah, meski sayang tertutup awan (kurang asyik jadinya kalau untuk foto). Pagi ini akhirnya dapat kesempatan untuk naik salah satu balon udara. Banyak balon udara menggunakan keranjang untuk menampung 3-4 orang, namun ada 2 balon udara yang hanya menggunakan 2 bangku. Kebetulan dapatnya balon udara yang hanya 2 bangku. Jadi hanya si pilot yang bernama Ben dari Belgia dengan penulis blog ini.

Beberapa cerita menarik yang bisa dikorek dari Ben (dan juga panitia) di hari ini adalah:

  • Harga balon udara miliknya sekitar 40.000 Euro. Tertarik untuk beli?
  • Untuk mendapatkan lisensi pilot, selain cek total kesehatan, harus sudah pernah terbang selama 25 kali di tempat yang berbeda-beda dengan didampingi tutor.
  • Profesi utamanya memang sebagai pilot balon udara. Sebelumnya ia adalah pilot helikopter. Beberapa pilot lain katanya kebanyakan adalah pensiunan pilot pula. Setelah pensiun, mereka investasi membuat balon udara dan menjadikannya itu profesi sekaligus hobi.
  • Tempat penyelenggaraan festival balon udara yang aman sebaiknya berada di area yang dikelilingi perbukitan atau gunung, sehingga angin tidak terlalu kencang. Ben menyebutnya “the box.”
  • Penerbangan balon udara murni berdasarkan gerakan angin. Yang bisa dikendalikan hanya naik, turun, berputar ke kiri dan ke kanan (tadi sempat diminta Ben beberapa kali untuk menarik tali di sebelah kanan saat balon udara hendak ia putar ke kanan).
  • Tempat balon udara mendarat mengikuti arah angin. Kebetulan tadi di atas angin agak tenang, sehingga balon udara hanya berputar-putar sekitar lapangan. Saat Ben bisa mendaratkan balon udaranya di lapangan yang sama, ia mendapat tepukan luar biasa dari rekan-rekannya. Rupanya, bisa mendaratkan balon udara di titik yang sama adalah hal yang sulit.
  • Biasanya di Eropa, balon udara menjadi salah satu bagian dari paket wisata, misalnya: naik balon udara ke bukit, di sana sudah tersedia candle light dinner di tengah hamparan rumput. Atau pesta pernikahan dengan pasangan suami istrinya disahkan di atas balon udara.
  • Dan terakhir, ia heran dengan para pengunjung yang berdatangan setelah jam 10:00, padahal hal paling menarik yang dilihat saat festival adalah sejak pagi hari, saat semua balon udara mulai mengembang. :)

Galeri foto selama 3 hari bisa dilihat di salindia berikut. Seperti biasa, klik pojok kiri atas untuk melihat versi layar penuh. Atau untuk melihatnya dalam format galeri, silakan kunjungi Eyesight.

Indonesian Hot Air Balloon Adventure di Sentul ini adalah artikel dari: Media Ide


Sudah pernah membaca buku-buku berikut?

" >


Permen Pahit Atau Manis?

This image has no alt text

permenpahitSudah baca Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Konten Multimedia (selanjutnya disingkat menjadi RPM)? Twitter ramai dengan hashtag #TolakRPMKonten. Nggak ada yang nggak menolak. Kalau kenapa harus ditolak, bisa dibaca tulisan Enda di Politikana dan tanggapan Pak Onno W. Purbo terkait dengan RPM Konten.

Sebagai seorang blogger (yang juga adalah penulis konten), sebenarnya ada enak dan nggaknya dengan munculnya RPM ini.

  • Penulis konten bebas menulis apa saja, mau negatif atau positif. Toh, kalau nanti ada apa-apa, yang akan disalahkan pertama kali adalah penyelenggaranya. Jadi, kalau misalnya Anda menulis status di Koprol atau berita di Kaskus dan itu bernada negatif, yang akan disalahkan pertama kali adalah Koprol dan Kaskus-nya. Sama juga terjadi dengan kasus negatif yang memanfaatkan Facebook. Tenang saja, nanti Pemerintah yang akan menuntut Facebook (memang bisa?). Atau setidaknya, “memaksa” ISP untuk memblokir Facebook (seperti yang pernah dilakukannya dulu untuk Blogspot dan YouTube). Penulisnya bisa lepas tanggung jawab. Enak kan?
  • Pembuat blog yang punya domain sendiri (seperti blog ini) akan lebih repot. Kalau melihat definisi di RPM Konten ini, blog ini bisa disebut sebagai Penyelenggara, dan penulis komentar di blog ini adalah Pengguna. Oleh karena itu, si pemilik blog ini punya kewajiban untuk menyortir setiap komentar yang masuk, mengecek apakah ada konten komentar yang melakukan pelanggaran seperti ketentuan di RPM, serta memastikan bahwa setiap komentar harus menggunakan nama dan identitas jelas. Mudah-mudahan di edisi Wordpress 3.0 nanti, di bagian komentar, selain nama, alamat, dan email, bisa fleksibel pula ditambahkan nomor KTP/SIM. Enak kan?
  • Lalu pembuat blog dan penyelenggara lainnya wajib pula memberikan laporan kepatuhan tentang konten-konten yang melanggar. Baiklah, menulis blog saja sudah susah, kini di akhir tahun harus dimintai pertanggungjawaban pembuatan laporan? Asyiknya, setelah memberikan laporan kepatuhan ini, penyelenggara akan mendapatkan surat yang boleh dipasang di situsnya. Jadi seperti badge gitu. Keren kan?
  • Belakangan ini perusahaan rokok menghadapi tantangan berat. Agar pengunjung datang ke situsnya, si pengunjung harus dipastikan berusia 18 tahun dan merokok. Oleh karena itu, saat masuk situsnya, pengunjung dihadapkan pada formulir yang panjang. Pengunjung juga diminta untuk mengunggah KTP/SIM sebagai bukti usianya. Hambatan registrasi ini memang menyulitkan pengunjung untuk mengakses situsnya. Nah, dengan adanya RPM Konten ini, kondisi serupa akan menimpa seluruh penyelenggara konten di Indonesia. Sudah dipastikan, orang akan semakin malas bergabung ke suatu situs. Ini cara yang kontradiktif kalau benar memang ada niat dari Kominfo untuk memajukan kehidupan berinternet di Indonesia. Keren kan?
  • Akan dibentuk Tim Konten Multimedia yang salah satu tugasnya pastinya menentukan konten mana yang boleh ditayangkan dan mana yang tidak. Kalau ini terjadi, mudah-mudahan isinya merupakan perwakilan dari pembuat dan penyelenggara konten, dan bukan para birokrat, apalagi si pengamat sok tahu yang nggak perlu namanya disebutkan di sini. Mudah-mudahan pula mereka benar-benar sangat bijak sehingga bisa menetapkan mana yang mengandung unsur positif dan mana yang negatif. Keren kan?
  • Hal ini belum termasuk ancaman hukuman dan pencabutan izin bagi penyelenggara yang tidak mematuhi peraturan. Inisiatif pemuda-pemuda Indonesia yang berupaya membangun situs positif (dengan tanpa bantuan Pemerintah sama sekali) seharusnya layak diacungi jempol. Bukannya malah menambah mereka pusing dengan keberadaan peraturan yang memperberat overhead pengeluaran mereka. Beberapa peraturan di RPM Konten ini membuat beban mereka semakin berat, seperti kewajiban menyimpan data log selama 3 bulan terakhir, membujuk anggota untuk mengisi registrasi lengkap, dan memaksa diri untuk mengawasi semua komentar dan diskusi yang muncul (dan memblokirnya kalau ada yang melanggar). Konsep Web 2.0 dimana pengawasan dilakukan oleh sesama anggota menjadi sesuatu yang tidak berani dijadikan andalan, karena resiko konsekuensi hukum yang menimpa penyelenggara terlalu besar untuk membiarkan anggota situs sendiri yang melakukan pengawasan.

Yang mengherankan, sejak munculnya RPM Konten ini, Menkominfo kita yang satu itu kok nggak ikut merespon apa-apa ya di Twitter?

Permen Pahit Atau Manis? ini adalah artikel dari: Media Ide


Sudah pernah membaca buku-buku berikut?

" >


Kontes Rumah Dara di Social Media

This image has no alt text

rumahdaraSebuah film membuat microsite untuk kampanye daring itu sudah biasa. Sudah sejak bertahun-tahun lalu, selalu muncul microsite yang menyertai film. Nggak berbeda, film thriller Rumah Dara pun memilikinya. Lalu kampanye disertai dengan percakapan di Facebook? Di tahun 2009, hampir semua kampanye daring menggunakan Facebook. Rumah Dara pun punya juga untuk membangun basis penggemarnya di sana. Lengkap dengan koleksi trailer, wallpaper, foto, hingga sketsa desain konsepnya.

Yang jauh lebih menarik adalah aktivitasnya di Twitter dan di 2 social media lokal, Kaskus dan Koprol. Benar, Koprol! Situs microblog buatan lokal yang berbasis lokasi ini, meski masih relatif baru, ternyata dilirik oleh Rumah Dara. Kontesnya pun memanfaatkan kelebihan Koprol itu sendiri, yakni ulasan terhadap tempat-tempat populer. Di salah satu kontesnya, pengguna diminta untuk membuat 20 ulasan tempat makan sambil menyebutkan @rumahdara. Tiga orang pertama yang melakukan ulasan lengkap akan mendapatkan tiket nonton gratis.

Sementara itu di Kaskus, forum komunitas terbesar di Indonesia, Rumah Dara memasang banner dan menyelenggarakan kuis dengan hadiah 100 tiket untuk 100 kaskuser yang beruntung. Pertanyaan dikirimkan melalui pesan pribadi ke salah satu admin Kaskus untuk penilaian.

Seperti di Koprol, Rumah Dara secara bertahap mengadakan kontes pula di Twitter. Tiket dibagikan kepada mereka yang menjawab tercepat soal-soal yang diberikan. Karena aktivitasnya ini, dengan cepat akun ini memiliki lebih dari 3.200 follower. Melalui akun ini pula disampaikan info-info seputar Rumah Dara dan para bintangnya.

Keaktifan Rumah Dara di ranah social media memang mengagumkan. Semua dimasuki, dengan cara yang disesuaikan dengan platform-nya masing-masing. Namun rasanya ada yang kurang. Ingat Plurk? Kenapa ya Rumah Dara tidak bermain kontes pula di Plurk? Meski sepertinya tren Plurk telah turun, tetap saja loh pengguna aktifnya di sana masih cukup banyak.

Kontes Rumah Dara di Social Media ini adalah artikel dari: Media Ide


Sudah pernah membaca buku-buku berikut?

" >